Matius 5:3-12

New Normal: New Characteristic (Kingdom Character)

Writing

New Normal: New Characteristic (Kingdom Character) – Pertanyaannya yang perlu kita renungkan hari ini adalah: Apakah yang membuat anda dan saya bahagia? Apakah yang membuat kita sungguh-sungguh terpuaskan? Apakah anda dan saya ingin bahagia?

Ucapan bahagia dalam setiap karakteristiknya diawali dan diakhiri dengan frasa “Kerajaan Sorga” ayat 3, 10. Hal ini menekankan apa yang yang disampaikan oleh Kristus adalah Karakter Kerajaan, karakteristik baru ditengah “new normal”.

Apa yang Membuat Saya Merasa Bahagia??

Sambil mengamati teks bacaan hari ini kita perlu terus bertanya: apakah sesungguhnya yang membuat saya merasa bahagia?

Hal ini menjadi pertanyaan paling mendalam yang kita bisa ajukan saat “new normal (new characteristic)” ini sehingga kebahagiaan penuh yang kita miliki saat ini dapat menghasilkan karakter Kerajaan. Kebahagiaan menjadi alasan kita memiliki karakter kerajaan ditengah pandemi. Kebahagiaan bukan seperti yang digambarkan menurut teori abraham Maslow yang secara mendasar memenuhi kebutuhan fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan dan aktualisasi melainkan kebahagiaan didasari oleh kemiskinan di hadapan Allah, kemiskinan rohani, dukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, kemurahan hati, kesucian hati, pembawa damai, penganiayaan dan penderitaan.

Apakah bahagia yang dimaksud?

Kata Yunani yang diterjemahkan menjadi “ berbahagia”  adalah makarioi (3107), yang berarti menjadi “terpuaskan secara  penuh.” Dalam Yunani klasik, kata merujuk pada keadaan pada saat kemudian, sesudahnya, alam baka. Meskipun demikian, dalam Perjanjian Baru, istilah itu digunakan atas sukacita yang datang dari keselamatan (bdk. Maz. 51:12). Kepuasan ini bukanlah akibat dari keadaan-keadaan yang menyenangkan dalam hidup. Hal ini hanya datang dari yang berada dalam diam dengan Kristus.  Kristus Yesus tidak pernah mengajarkan kita bahwa karakter kerajaan Allah muncul dari kebahagiaan menurut dunia dan menurut diri kita sendiri.

Hal yang pertama perlu kita ketahui dari ayat-ayat tentang kebahagiaan ini bahwa seluruh ucapan bahagia (atau diberkatilah) ini tidak terpisah satu dengan yang lain. Tidak ada pengajaran karakter atau “Be Attitude” dalam ayat-ayat ini dapat dipraktekkan satu persatu secara terpisah. Keseluruhannya merupakan satu paket. Paket sikap yang lahir dari kebahagiaan sesungguhnya, yaitu kebahagian rohani bukan kebahagiaan jasmani. Itu sebabnya kebahagiaan pertama dicatat bagi mereka yang miskin secara rohani.

Mari kita lihat yang pertama:

Berbahagialah Orang Yang Miskin Di Hadapan Allah, Karena Merekalah Yang Empunya Kerajaan Sorga

Berbahagialah Orang Yang Miskin Di Hadapan Allah, Karena Merekalah Yang Empunya Kerajaan Sorga 960 540 Pastor John Sihombing

Berbahagialah Orang yang Miskin di Hadapan Allah, Karena Merekalah yang Empunya Kerajaan Sorga Matius 5:3. Kebahagiaan Kerajaan Allah itu hadir bukan karena ketidakmampuan seseorang secara materi. Dunia mengenal kemiskinan jasmani tetapi tidak mengenal kemiskinan rohani, ay. 3. Kemiskinan yang dimaksud di…

Back to top