Hosea 1:1-9

Hosea 1

Hosea 1:1-9

Hosea 1:1-9 960 540 Pastor John Sihombing

Hosea 1:1-9 – Apa yang Kubaca?

1 Orang Israel bersukacita sementara mereka sebenarnya sedang berzinah dengan meninggalkan Tuhan. Mereka mencintai upah dari segala tempat daripada Tuhan.
2 Kenyataannya apa yang merupakan kebutuhan dan hasi yang mereka dapatkan itu akan mengecewakan mereka.
3 Itu sebabnya mereka tidak akan tinggal lagi ditanah mereka sebagai bangsa Israel melainkan masuk ke dalam “perbudakkan” seperti ketika nenek moyang mereka di Mesir. Mereka akan mengalami pembuangan ke Asyur. Disanalah mereka akan mendapatkan apa yang sesungguhnya mereka tidak inginkan (najis)
4 Di sanalah mereka sesungguhnya akan berhenti melakukan tindakan yang tampak seolah-olah “menyenangkan hati” Tuhan. Karena sesungguhnya mereka melakukannya untuk diri mereka sendiri.
5 Tidak ada sesuatu halpun yang bisa dilakukan oleh mereka di pembuangan.
6 Ada orang-orang Israel yang mencoba untuk melarikan diri dari pemusnahan dan pembuangan tapi mereka tidak dapat lari dari penghukuman Tuhan. Bahkan barang-barang berhara, harta, merekapun tidak dapat mereka selamatkan.
7 Pemberitaan Hosea tentang penghukuman dan pembalasan itu akan dialami oleh Israel dan tentang perkataan Hosea itu ia disebut sebagai orang gila.
8 Nabinya, Hosea, malahan diintai, dan hal ini menandakaan kecurigaan terlebih permusuhan terhadap Tuhan yang mengutus nabi-Nya.
9 Perbuatan mereka busuk sampai-sampai Tuhan mengingat kesalahan dan dosa mereka. Hal ini menandakan bahwa ketiadaan pertobatan akan tetap membawa penghukuman.

Apa pesan Allah padaku?

Hosea 1:1 Orang Israel bersukacita sementara mereka sebenarnya sedang berzinah dengan meninggalkan Tuhan. Mereka mencintai upah dari segala tempat daripada Tuhan. Hosea 1:2. Kenyataannya apa yang merupakan kebutuhan dan hasil yang mereka dapatkan itu akan mengecewakan mereka.

Pelajaran

Sukacita bisa hadir dalam hidup kita walaupun kita tengah meninggalkan Tuhan. Penyebabnya ialah upah, uang. Misalnya: Orang melupakan bahwa mengejar karir untuk mendapatkan uang bukanlah tujuan dari panggilan dalam seseorang bekerja. Panggilan menempatkan seseorang dihadapan Tuhan untuk menerima upah yang membuatnya tetap bersukacita.

Namun sebaliknya seorang yang bekerja di dalam organisasi Kristen atau gereja dapat melayani tanpa upah yang wajar dan pada saat itu upah yang ditawarkan adalah upah yang tidak selayaknya diberikan di hadapan Tuhan. Jadi uang bisa di dapat dari segala tempat tapi apakah kecintaan pada uang yang menuntun kita untuk mendapatkannya.

Lalu, dimana kecintaan kita kepada Tuhan? Ketika menganggap bahwa uang yang kita hasilkan berasal dari Tuhan sementara kita tidak mencari Tuhan maka sukacita kitapun semu. Itu sebabnya hasil yang kita dapatkan akhrinya akan mengecewakan, Hosea 1:2.

Hosea 1:3. Itu sebabnya mereka tidak akan tinggal lagi ditanah mereka sebagai bangsa Israel melainkan masuk ke dalam “perbudakkan” seperti ketika nenek moyang mereka di Mesir. Mereka akan mengalami pembuangan ke Asyur. Disanalah mereka akan mendapatkan apa yang sesungguhnya mereka tidak inginkan (najis). Hosea 1:4. Di sanalah mereka sesungguhnya akan berhenti melakukan tindakan yang tampak seolah-olah “menyenangkan hati” Tuhan.

Karena sesungguhnya mereka melakukannya untuk diri mereka sendiri. Hosea 1:5. Tidak ada sesuatu halpun yang bisa dilakukan oleh mereka di pembuangan. Hosea 1:6. Ada orang-orang Israel yang mencoba untuk melarikan diri dari pemusnahan dan pembuangan tapi mereka tidak dapat lari dari penghukuman Tuhan. Bahkan barang-barang berhara, harta, merekapun tidak dapat mereka selamatkan.

Peringatan

Sebagai orang yang percaya kita diingatkan bahwa “perbudakkan” oleh uang dan apapun yang kita inginkan mendatangkan hukuman. Ketika penghukuman itu datang maka kita akan mendapatkan hal yang tidak kita inginkan.

Kita harus menghentikan segala tindakan yang seolah-olah menyenangkan hati Tuhan namun sebenarnya untuk menyenangkan diri kita sendiri. Saat beribadah atau pergi ke gereja, berdoa, memuji, apa yang kita cari? Apakah ibadah hanya untuk mencari status?

Ketika kita berdoa, apakah kita banyak kali meminta jawaban Tuhan atas pergumulan kita atau berkat rohani yang Dia sediakan. Ketika kita memuji, apa yang kita siratkan dari pujian kita, apakah kesetiaan Tuhan? Lalu kapan kita menyatakan ketidaksetiaan kita di dahapan Tuhan dan bertobat.

Hosea 1:7. Pemberitaan Hosea tentang penghukuman dan pembalasan itu akan dialami oleh Israel dan tentang perkataan Hosea itu ia disebut sebagai orang gila.8. Nabinya, Hosea, malahan diintai, dan hal ini menandakaan kecurigaan terlebih permusuhan terhadap Tuhan yang mengutus nabi-Nya.

Pelajaran

Pelajaran sebagai jemaat dan pemberita Injil, narasumber. Apakah kita “dibeli” atau “membeli” orang yang mengundang kita untuk siaran, berkhotbah dan melayani? Bagaimana kita menempatkan apa yang kita beritakan dan kita dengarkan secara proporsional (bukan saja yang menyenangkan telinga).

Apakah kritik yang kita dengar dari seseorang yang mengasihi Tuhan dan diutusnya untuk memberitakan Injil menjadikan kita curiga? Hosea tidak saja dianggap orang gila, ia malahan diintai. Ketika kita mendapati bahwa Tuhan ingin kita menegur orang lain atau sebaliknya kita mendapatkan teguran bahkan berita tentang penghukuman apakah reaksi kita? Pernahkah kita menyadari bahwa berita yang dibawa oleh Hosea tentang ketidaksetiaan itu sangat dekat dengan kita sebagai umat-Nya.

Ketidaksetiaan dengan suami-isteri, ketidaksetiaan dalam pekerjaan, ketidaksetiaan dalam janji pada Tuhan, ketidaksetiaan perjanjian kita dalam dunia bisnis, ketidaksetiaan guru terhadap murid, ketidaksetiaan pendeta untuk memperhatikan domab-domab-Nya, ketidaksetiaan jemaat dalam memberi dukungan bagi hamba Tuhan, dst.

Hosea 1:9. Perbuatan mereka busuk sampai-sampai Tuhan mengingat kesalahan dan dosa mereka. Hal ini menandakan bahwa ketiadaan pertobatan akan tetap membawa penghukuman.

Peringatan

Tuhan tahu bagaimana kita meletakkan pertobatan ditengah hiruk pikuknya doa, penyembahan dan pujian kita dihadapan-Nya. Tuhan itu setia dan pengampun terhadap orang yang tidak saja menyesali perbuatannya namun juga bertobat. Karena setiap perbuatan kita yang tidak setia tercium oleh Tuhan. Tuhan “ingat” akan dosa kita karena kita tidak menanggalkannya. Ujiannya ialah kesetiaan. Ketiadaan kesetiaan menunjukkan ketiadaan pertobatan yang pada akhirnya membawa kpada hukuman.

Apa responku?

Bersyukur

Bersyukur untuk kitab Hosea yang memberitakan kesetiaan ditengah ketidaksetiaan kita.

Bertobat.

Kitab Hosea yang ditelusuri dari pasal 1-9 membuktikan bahwa saya bukanlah orang yang setia dalam Tuhan. Ada “compang-camping” dalam kesetiaan saya di dalam pekerjaan, maupun keluarga dihadapan Tuhan. Kalau kita bilang soal manajemen Tuhan dalam waktu dan ketepatan maka setiap hal yang menjadi tanggungjawab dan kesetiaan saya sangat lemah.

Bertindak.

Mencari setiap sisi kehidupan yang tidak menjukkan kesetiaan kita di hadapan Tuhan. contoh: Menemani anak saat pulang mengajar. Itu bukan saja menuntut komitment tapi juga kesetiaan. Walau saya sudah ber-BGA tiap hari ternyata masih banyak hal yang harus pelajari dan apalagi lakukan dalam Firman Tuhan. Memperbaharui sisi-sisi ketidaksetiaan saya dihadapan Tuhan.

Siap menghadapi konsekwensi disebut “gila” dalam menyampaikan Firman Tuhan yang menegur ketidaksetiaan diri maupun orang lain. Jangan takut, apalagi malu dalam menyampaikan apa yang Tuhan inginkan untuk saya beritakan.

Share
About the author

Pastor John

Pastor, Biblical Studies Teacher, Devotional Writer and Podcasters, Missional Orientation, Counselor, Song Composer and Worshiper

Leave a Reply

Back to top